“SuperKid Vs SuperParents”

Masih Menjadikan Anak “Superkid” Dalam Belajar?
Kecenderungan orang tua yang terkadang sering kali menempatkan anak menjadi “SuperKid” sangat merisaukan anak. Memiliki anak yang bisa dibilang “SuperKid” memang menjadi idaman setiap orang

image

tua. Pada umumnya secara 90 persen orang tua ingin sekali mempuyai anak yang memiliki segala kemampuan baik secara akademik berprestasi mau non-akademik. Jika sikap dan pe rilaku orang tua sudah seperti itu, maka habislah seorang anak yang bukan “SuperKid”. Pada hakikatnya setiap anak pada umumnya hanya memiliki satu kecenderungan dan  tidak mengiyakan bahwa memang ada beberapa dan tidak pada umumnya yang memiliki banyak kecenderungan “Multiple Intellgence”. Oleh karena itu seperti yang dikatakan Howard Gardner 1991 bahwa kecenderungan sistem pendidikan lebih berasumsi bahwa setiap anak dapat belajar dengan cara yang sama dan dinilai dengan cara yang sama pula” padahal jauh dari itu semua jelas bahwa setiap anak memiliki gaya belajar “Learning style” yang sangat berbeda. Dijelaskan kembali oleh Howard Gardner beberapa learning style yang dimiliki oleh anak:

1. Visual spartial (visualisasi)
Pada tahap ini pembelajaran anak cenderung pada sesuatu yang bentuk “Real” visualisasi, oleh karena itu, sebaiknya pembelajaran sebaiknya menggunakan metode  “Authentic Learning”

2. Bodily-Kinesthetic (kinestatik)
Melibatkan anggota tubuh seperti tangan, kaki dan anggota tubuh yang lainnya adalah bentuk pembelajaran yang akan mempermudah anak yang memiliki gaya belajar “kinesthetic learning” ini. Teknik pembelajaran pun akan didesain dengan sangat baik melalui kegiatan; Role-Play, team work, dan kegiatan yang lainnya.

3. Music (Musik)
Musik dapat menjadi salah satu cara untuk meningkat kan motivasi dan konsentrasi anak. Ada kecenderungan anak yang akan mudah memahami pelajaran ketika pembelajaran di modifikasi dengan lirik, lagu, bahkan hal-hal yang berkaitan dengan music.

4. Interpersonal
Melibatkan siswa dalam bekerja secara group adalah pembelajaran yang sangat baik. Kegiatan yang secara tidak langsung berkaitan dengan interaksi sesama siswa akan menjadi salah satu gaya belajar siswa yang memiliki gaya belajar “Interpersonal” ini. Siswa akan lebih nyaman ketika harus memahami materi pembelajaran melalui kegiatan interaksi sesama teman bahkan kerja tim ‘Team Work”

5. Intrapersonal
“Autonomous learner” adalah karakter dari gaya belajar anak yang memiliki “Intrepersonal”. Anak yang memiliki gaya belajar ini cenderung lebih senang tidak melibatkan sekitar dalam pembelajaran, karena anak ini cenderung dapat belajar dengan mandiri tanpa harus berinteraksi oleh teman atau sekitar. Memiliki peserta didik seperti ini dapat memusatkan pembelajaran pada “Individual learner” dan intropeksi diri “Self-Reflection”

6. Lingusitic
Bahasa merupakan salah satu hal yang disenangi pada anak ini. Oleh karena itu, anak  ini sangat tertarik pada karya-karya sastra dan lebih mudah belajar melalui karya-karya sastra seperti; puisi, cerita, dan multimedia.

7. Logical
Pada tahapan ini, anak akan lebih suka bereksperimen seperti membuat perhitungan antara satu hubungan dengan hubungan yang lain bahkan lebih cenderung pada pembelajaran yang didasari pada pemecahan masalah dan investigasi.

Seharusnya orang tua mengerti bahwa setiap anak pada umumnya memiliki kecenderungannya masing-masing. Menjadikan anak “SuperKid” yang dapat menguasai segala hal adalah bentuk “egoism” orang tua yang memandang anak bisa mengerti segala hal. Begitupula dengan para pendidik (Guru), menyesuaikan gaya belajar anak dalam pembelajaran adalah salah satu bentuk kepercayaan kita bahwa setiap anak dapat berkembang dan suskes dengan hal yang mereka sukai di masa depan.

Bagi rapot sebagai refleksi guru dan orang tua

Bagi kebanyakan guru, melaporkan hasil ulangan atau pencapaian anak adalah hal yang sangat penting selain memberikan “progress report” kepada orang tua tentang anak tetapi juga memberikan penjelasan tentang keIMG_0765seharian anak disekolah. Seharusnya pembagian rapot ini juga harus menghasilkan satu komitmen antara orang tua dan guru untuk pembelajaran anak kedepannya. Ada beberapa hal yang baiknya menjadi perhatian guru dalam pembagian rapot:

1.Menjalin komitmen antara guru dan orang tua terhadap pendidikan anak

Moment yang sangat baik dan jarang ini dapat sekali digunakan oleh guru dalam menjalin kerjasama dengan orangtua. Dengan membandingkan progress repot yang terdahulu dan sekarang,  guru dapat mudah mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan masing-masing siswa. Oleh karna itu, menjalin komitmen atau kerjasama ini sangat dianjurkan. Agar proses identifikasi kelemahan siswa dapat diatasi sedini mungkin.

2. Bentuk kepedulian orang tua dan guru terhadap perkembangan anak.

Kepedulian orang tua terhadap pendidikan harus menjadi poin pertama dan salah satu hak anak untuk mendapatkannya. Banyak sekali dijumpai ketika pembagian rapot, orang tua cenderung bersikap satu arah. Orang tua berperan sebagai orang lain ketika melihat hasil pembelajaran anaknya seolah-olah kegagalan anak hanya milik anak dan gurunya saja bukan orang tua. Orang tua bersikap dingin bahkan memusatkan pada kegagalan guru mengajar dan mendidik anak. Seharusnya kegagalan adalah bagian dari kegagalan guru dan peranan orang tua.

3. Pembelajaran terhadap anak akan pentingnya pendidikan.

Sangat disayangkan apabila anak tidak mengetahui mengapa ada kegiatan pembagian rapot dan sangat disayangkan apabila pembagian rapot ini hanya dijadikan sesuatu yang mengerihkan. Pembagian rapot seharusnya menjadi bagian pembelajaran bagi siswa bahwa sesuatu  yang kita kerjakan kelak akan mendapatkan penilaian, baik buruk ataupun baik. anak akan belajar bertanggung jawab atas apa yang telah dicapai dan juga anak akan belajar untuk meningkatkannya kembali.

Pada akhirnya, pendidikan adalah sebuah proses yang tidak dapat dicapai dengan maksimal jika hanya menitik beratkan guru sebagai tenaga pendidik dan anak sebgai peserta didik. Membangun komunikasi yang baik antara sekolah, orangtua, dan guru sangatlah pentng. pembagian rapot “Progress test” harusnya menjadi salah satu kesempatan berharga bagi orang tua dan guru sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pendidikan anak. Pembagian rapot diharapkan dapat berbuah komitmen antara guru dan orang tua untuk pendidikan anak yang lebih baik lagi kedepannya, amien.

Oleh

Muhammad Abduh Al-Manar

 

 

Who says that teaching is complicated?

Teaching has to be done by a perfect plan and well preparation. Your teaching’s performance can actually succeed if it helps the students’ need. There are a few steps that can easily help you as a
teacher to engage and motivate the student into learning;

– Student’s interest is teacher’s strategy
Like a war, teaching needs to prepare anything. Like in war, to know the enemy. In teaching, the teacher needs to observe and get to know the students’ interest. Their interest would bridge the lesson and learning into something fun and joy

– Creative teaching
Teaching has to be fun and joy. To create 21st learning century, the teacher has to understand that learning does not stop at the evaluation, but it ends when the students can invent something and to be creative with. This will drive the students into 21 learning century.

– No violence
To accomodate the student’s behaviour and avoid teacher’s action action according to that problem, applying the student learning style is urgently needed. Teaching seems something that is complicated, but if you go deeper into it you won’t say it is difficult to figure it out.

– Building a good communication among: school management, children and parent.
The better education covers those three elements above as the result of effective learning. Having the same vision and mission for creating better education for child should start with the agreement between those elements. When the parents agrees with the school vision and mission, there will be easier for the teachers to communicate to the parents from the students performance.

Having the same vision and understanding between elements (parents) is needed. As the 21 learning century drives the student to be more productive in learning. Learning does not stop at the evaluation and scoring, but it continues into the application in a real life.

By
Muhammad Abduh Al-Manar

image

Pentingnya peran orangtua muda atau karir dalam pendidikan anak

“Young Parents on Top”

Sering kali para pendidik salah kaprah akan pengertian pembelajaran yang efektif. Pembelajaran terlebipost-11h disudutkan pada situasi didalam kelas dan dilakukan secara formal. Padahal, pada perkembangan anak, anak lebih dapat merasakan pembelajaran ketika anak berada dalam kondisi nyaman, bebas tanpa tekanan, dan dorongan motivasi yang kuat oleh orang sekitar.

Bagi orang tua muda yang memang harus meninggalkan anaknya ketika bekerja, ini memang sangatlah sulit. Ada beberapa tips yang bisa membantu orang tua muda agar dapat secara terus menerus memantau
perkembangan anaknya secara intensif walaupun harus bekerja;

1. Saat sarapan pagi dirumah.

Pendidikan dapat dilakukan dimana saja. Waktu yang sempit disaat makan pagi bersama, bisa menjadi waktu yang tepat saat memberikan motiasi ke anak ketika dimeja makan. Motivasi-motivasi ringan sampai dengan beberapa pertanyaan mengenai pelajaran atau tugas sekolah bisa dilakukan saat makan pagi bersama.

2. Mengantarkan anak kesekolah.

Pembelajaran bisa dilakukan oleh orangtua dimana saja. Mengantarkan anak kesekolahpun dapat menjadi waktu emas para orang tua muda untuk menanamkan karakter anak. Sepanjang jalan kesekolah, orang tua muda dapat memberikan pembelajaran karakter seperti rasa bersyukur, saling menghargai, dan rasa peduli terhadap sesama. Pembelajaran tersebut dapat diraih dengan melalukan perbandingan kecil dari yang dilihat disepanjang jalan menuju sekolah.

3. Menitipkan anak kepada guru.

Mengapa harus menemui guru ketika anak ada masalah disekolah?mengapa menemui guru ketika pembagian rapor saja?mengapa hanya datang kesekolah ketika harus dimintai datang oleh guru? Dengan meluangkan waktu menemui guru dan menanyakan perkembangan anak disekolah adalah upaya dari bentuk kepedulian orang tua terhadap perkembangan anak.

Pendidikan anak sejak usia dini sangatlah penting. Pendidikan tidak seharusya dititikberatkan disekolah. Kerterlibatan orang tua, guru dan serta sekolah menjadi faktor penting bagi perkembangan anak. Dengan tips yang diatas, “Young Parents” tidak usah takut akan kehilangan waktunya untuk memantau perkembangan anak disela kesibukan berkerja.

Oleh, Muhammad Abduh Al-Manar