5 Hal sederhana menjadi guru professional dan dikenang

Mengapa menjadi guru?

 

Apa yang di cari seorang guru? Kesejahteraan dalam hidup atau mencari kehidupan dalam mengajar ataukah mensejahterahkan diri dalam pengabdian? Pernah suatu saat ketika dalam percakapan bersama teman sejawat ketika di bangku kuliah memperdebatkan “jika memang ingin mencari materi, ya jangan menjadi guru. Gaji nya pasti kecil.”  Gaji guru tidak seberapa dan apabila berkeinginan lebih, maka ditakutkan menjadi guru yang “Pamrih” sedikit-sedikit meminta balasan atas jasa yang telah di perbuat ataupun sedikit-sedikit ingin dilihat.  Padahal guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, ya walaupun selogan tersebut sudah diganti menjadi “ Pahlawan Bangsa Pencipta Cendekia”

                Mencetak cendekia berarti mencetak penerus bangsa yang memilik tingkat kecerdasan tinggi dan memiliki IQ yang tinggi pula, tapi yakin hanya kecerdasan? Lalu kemana nilai-nilai yang lain? Bertanggung jawab, saling menghargai, menghormati sesama dan ,berlapang dada dalam menyikapi perbedaan. Hal yang demikian yang justru hilang ditelan bumi. Orientasi guru masa kini hanya pada kecerdasan dan IQ saja. Siswa ditekan habis-habisan agar nilai berada diatas rata-rata dan yang terjadi system pendidikan kita saling menekan. Pemerintah menekankan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa harus berada di tingkat yang telah ditetapkan maka apa yang akan terjadi? Pemerintah menekan pengawas wilayah sekolah terutama kepada kepala sekolah lalu kepala sekolah menekan kembali staff pengajarnya dan seterusnya guru menekan siswa dengan bantuan orang tua murid untuk mengikuti les privat agar anak memiliki nilai diatas rata-rata yang telah ditetapkan. Pada akhirnya siswa lah yang menjadi korbannya. Begitu tersistematis dan menusuk.

Padahal hal tersebut jauh dipandang mata, dengan opini yang diberikan oleh  Ian Gilbert dengan judul “Why Do I Need Teacher When I’ve got Google” secara gamblang ia menjelaskan  bahwa kecerdasan dan nilai rata-rata hasil belajar yang tinggi bukanlah prioritas utama perusahaan besar dunia dalam mencari karyawan akan tetapi bertanggung jawab, memiliki sikap/jiwa kepemimpinan, dan berkolaborasi adalah hal utama dalam mencari karyawan terbaiknya.

                Yakin masih mengajarkan anak dengan orientasi kecerdasan adalah kunci utama kesuksesan? Tapi yakin guru merupakan kunci kecerdasan anak? Sering seorang guru berteriak “Nak, apabila kalian ingin pintar, kalian harus banyak belajar dan mendapatkan nilai yang tinggi” terlintas dan tanpa kita sadari seorang guru sedang memberikan nasihat yang lebih seperti pada memberikan doktrin kepada siswa bahwa kesuksesan memang berasal dari nilai-nilai pelajaran yang  tinggi. Pernah kan seperti itu?

                Jadi bagaimana guru yang baik? Yang dapat menyeimbangkan antar IQ dan EQ.  saya pribadi percaya bahwa dengan yang dikatakan oleh Ian Gilbert bahwa “Your EQ will take you further than IQ”dan guru sebaikanya sangat memahami itu. Berikut hal – hal yang sangat sederhana yang dapat dilakukan seorang guru yang memahami dan peduli bahwa  kecerdasan secara intelektual bukanlah hal utama dalam meraih kesuksesan dimasa mendatang:

  1. Mengenali murid lebih jauh

    Berpikir Keras Untuk Lulus
     Andai ibu guru mengetahui apa yang kami rasakan ini…

Apabila seorang dapat bermain peran layaknya Sherlock Holmes, maka inilah saatnya. Kita menjadi guru harus mengetahui kepribadian anak  , gaya belajar anak “Learning Style”, sampai dengan tingkat ketertarikan anak pada hal-hal yang mereka sukai dan mereka senangi. Belajar dari ini guru akan mengetahui bagaimana untuk mengembangkan anak tersebut dan pembelajaran akan lebih focus dan berorientasi pada hasil bukan pada proses. Jadi ketahui dahulu muridnya lalu kita dapat memutusakan langkah awal apa yang dapat kita lakukan,

  1. Open Minded

Guru harus terbuka dan wajib menerima segala perkembangan yang ada didunia. Tidak membatasi diri pada pengetahuan yang monoton saja, akan tetapi siap menjadi penyaring informasi dan penyalur kepada anak murid. Perkembangan dunia jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan, guru dituntut untuk mempersiapkan anak bukan untuk 1 atau 2 tahun mendatang melainkan 10 sampai 15 tahun mendatang. Jadi bayangkan seharusnya apa yang saat ini kita kerjakan harus menjadi pembekalan anak untuk 10 sampai 15 tahun mendatang. Ini sangat membutuhkan guru yang sangat peka akan perkembangan zaman dan tantangan masa depan.

  1. “Teach to test”

Pernah dengar tidak? Jauh sebelum hari ujian, siswa secara intensive 2 atau 3 bulan sebelumnya akan di batasi ruang belajar mereka dengan ujian. Pembelajaran lebih berorientasi pada ujian. Semua guru pasti merasakan dan semua siswa pasti merasakan budaya tersebut di sekolah manapun, lalu apakah ini sudah menjadi budaya?atau memang seperti ini? Seorang guru baikanya dapat menyikapi ini dengan tidak membatasi pembelajaran hanya saja dengan test akan tetapi dapat beradaptasi dan memahami bahwa test bukanlah segalanya dan tetap mengajar dengan cara lebih bersifat pada “Aplikatif/Penerapan” pada dunia nyata

  1. Nilai- nilai kehidupan

Ini yang sangat terlupakan, Saling menghargai dan mengucapkan terimakasih kepada setiap orang yang telah berbuat hal baik dalam hidup dan perubahan didalam diri kita merupakan hal yang berat. Terkadang siswa lupa untuk menghargai sesama karena sikap  tersebut tidak diajarkan dalam kelas. Lebih kepada sikap individu saja. Tidak sedikit dari kita yang lebih ingin selalu didengar daripada mendengar. Itu merupakan hal kecil dari nilai-nilai kehidupan. Itu semua dapat kita mulai dengan membangun sebuah rutinitas sekolah yang nanti akan berujung pada kebudayaan. Contoh: meminta siswa untuk selalu mengucapkan terimakasih kepada siapa saja yang berbuat baik sampai dengan berjabat tangan dan mengucapkan salam sebagai bentuk saling menghargai sesama.

  1. Jadilah guru yang di kenang

Mendapatkan julukan guru yang dikenang ini sangatlah mudah. Ini bergantung pada seorang guru tersebut mau dikenang kebaikannya dan jasanya ataukah semua keburukan-keburukannya. Memberikan  siswa pengalaman dalam proses pembelajaran itu terhitung sulit. Memory siswa akan menangkap hal yang tidak akan terlupakan apabila mereka mendapati sesuatu yang baru, luar biasa dan istimewa bagi mereka. Lalu dapatkan kita menjadi guru yang luar biasa dan istmewa ?Hal ini dapat terjadi dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru disaat guru  mencuri perhatian siswa, mengajak siswa belajar, berpikir lebih keras sampai dengan siswa sampai dengan terhanyut dalam diskusi dalam pembelajaran. Hal tersebut tidak mudah tetapi tidak sulit apabila ada kemauan pada setiap guru yang memiliki jiwa PEMBELAJAR.

Reading Stations in the Foreign Language Classroom

This is the activity that could actually engage the students in learning reading. The students can be automatically motivated by finding out the set of the pictures which are given by the teacher.

World Language Classroom

Students need to engage with a text to truly understand the themes, concepts, vocabulary and structures.  Reading comprehension questions don’t provide much engagement with text.  Here are some ideas for creating reading stations for your foreign language students.  These are activities that require students to engage with the text and make meaning.  These are general activities that can be modified to fit various reading proficiency levels.

Reading Station Activities for the Foreign (World) Language Classroom. (French, Spanish) wlteacher.wordpress.comHERE are some Spanish Reading passages that work well with these activities.

Station 1: Photos

  • Students arrange photos chronologically according to the text.

Sentences (individual or in small groups)

  • Students  arrange sentences chronologically according to the text. They should not be sentences taken directly from the text, but rather use different words.

Match Photos with Vocabulary (individual or small groups)

  • Students have a number of words from the story (familiar and new) as well as a picture representation of each word.

Station 4: Bingo…

View original post 214 more words

4 Prinsip agar menjadi guru KeKinian.

Apakah kita Guru MasaLalu atau MasaKini!

Yakin kita sudah menjadi guru kekinian?Apakah kita sama dengan guru terdahulu kita? Mungkin dari kita masih sangat ingat ketika harus menyebutkan berbagai macam karakter guru kita ketika jaman masih sekolah.

Kebiasaa Kesalahan Guru dalam Mendidik Siswa

Dimulai dari guru yang sangat baik sampai dengan guru yang sangat kejam. Masih ingat ketika kita melakukan pelanggaran disekolah lalu mendapatkan konsekuensi yang lumayan berat? Secara tidak kita sadari, guru tersebut telah memberikan pengalaman belajar yang sangat berarti dan tidak dapat dilupakan. Namun, bagaimana jika pengalaman lalu kitatersebut diaplikasikan pada pendidikan saatini? Mungkin akan banyak pihak yang taksependapat oleh kita apabila masih berlakukan hukuman (konsekuensi) secara fisik karena walau bagaimanapun, hukuman fisik tetap saja tidak diterima.

Masih teringat dengan jelas rentetan permasalahan guru yang terjadi belakangan ini. Seorang guru yang berniat sangat baik yaitu membawasiswa kemasa depan yang cerah,sering kali berakhir pada kasus-kasus bahkan harus berhadapan oleh aparat hukum. Januari 2016 seorang guru honorer di SDN Penjalin Kidul Majalengka harus berhadapan dengan aparat bahkan cenderung mengintimidasi guru tersebut karena prihal mencukur rambut siswa.

Guru saat ini seperti terbatasi dan cenderung tidak dapat ruang privasi untuk mengaplikasikan pengajaran. Walau memang betul, kekerasan bukanlah alasan yang tepat untuk memberikan pengalaman dan pembelajaran yang baik.

Dengan tuntutan yang sama walau cenderung lebih besar, guru masa kini harus tetap memberikan pengalaman belajar yang berarti kepada siswa. Pengalaman belajar seharusnya dapat meliputi banyak skill dan kemampuan-kemampuan siswa. Menghadapi kemajuan teknologi yang pesat dan dibarengi dengan persaingan global yang super ketat ini. Jadi secara tidak langsung kita mewajibkan siswa siswa masa depan kita dapat berkompetitsi secara global di masa yang akan datang. Lalu pertanyaan besar kepada kita “Sudah siapkah kita mempersiapkan mereka (Siswa-siswi) kita?

Keempat prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikutini:

  1. Instruction should be student-centered

Secara tidak kita sadari, seorang guru terkadang berlaku egois dalam pembelajaran. Kita sebagai guru lebih mengajarakan anak didik kitauntuk pandai mendengarkan dibandingkan berfikir dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Pembelajaran seharusnya berpusat pada rasa ingin tahu, lalu mulai mencari tahu, dan melakukan identifikasi apa yang telah diketahui dan melakuakan eksploari secarlebih luas dari yang telah didapatkan.

  1. Education should be collaborative.

Berkomunikasi dengan efektif dalam pembelajaran terutama ketika mendiskusikan adalah salah satu pembelajaran secara kolaboratif. Secara tidak langsung pembelajaran koloboratif dapat bertujuan:

  1. First to develop resources that empower learners

Pembelajaran ini dapat meningkatkan para siswa untuk mengembangkan materi yang ada secara bersama-sama.

  1. Second to make complex ideas accessible

Kesulitan dalam pembelajaran dapat dengan mudah terpecahkan secara kolaboratif. Banyak pendapat dan perbedaan opini yang secara tidak langsung memberikan siswa kemudahan dalam menyelesaikan pelajaran yang sulit.

  1. Third to encourage exploratory talk in the classroom.

Apakah kelas berisik itu selalu berdampak negative?ada sebuah penelitian yang menjelaskan bahwa “Talk and Thinking can work together to create new meaning” lalu bagaimana dampak ketika kita lebih mewajibkan siswa kita untuk diam dan mendengarkan

  1. Learning should have context.

Pernahkah merasa bosan untuk belajar?Atau bertanya-tanya mengapa harus belajar?Atau bahkan kita sesekali sempat kesal karena “Untuk apa sih belajar?” Mengapa harus mengajarkan anak kita belajar tanpa menghubungkan pembelajaran tersebut dengan kebutuhan mereka sehari-hari?oleh karena itu, seorang guru seharusnya dapat mengajar dengan konteks dan tujuan yang jelas. Jika tidak, timbullah pertanyaan-pertanyaan tersebut yang akan membuat siswa bertanya-tanya pada dirinya yang nanti dapat berakibat pada kebosanan, kejenuhan, dan merasa tidak pentingnya belajar bagi siswa. Itu semua akan terjadi jika kita mengajar tanpa menghubungkan pembelajaran dan bahan ajar kita kedalam kehidupan sehari-hari anak.

  1. Schools should be integrated with society

Perkembangan peserta didik kita dapat terlihat dengan jelas ketika mereka dan lingkungan dapat bersinergi dalam kegiatan-kegiatan sederhana sekolah atau lingkungan. Keterlibatan masyarakat dan sekolah dapat menjadi pembelajaran real bagi siswa (Authentic learning). Hal-hal kecil yang dapat dilakukan sekolah terhadap lingkungan sekitar ialah ikut serta dalam kegiatan masyarakat yang diadakan oleh perwakilan lingkungan sekitar.

Pada akhirnya menjadi guru kekinian harus dibarengi dengan perkembangan wawasan guru terhadap dunia. Guru harus membuka mata dengan lebar bahwa tantangan murid kita jauh lebih besar di masa yang akan datang. kompetisi anak didik kita dapat berkali lipat lebih besar dari kita dahulu. oleh karena itu, diperlukannya guru-guru yang terbuka dan “aware” terhadap perkembangan zaman dan siap mempersiapkan anak pada pembelajaran abada ke-21.

By

Muhammad Abduh Al-Manar

Learning Needs a Context

Why are we struggling and trying very hard to force the students to memorize the content rather than the its relevancy to the real life.

Nowadays, The teachers are mostly afraid of having the students with have limited memorization for materials like historical dates, vocabulary words, science facts.

User Generated Education

This is a follow up to a post I wrote, How Do We Learn? How Should We Learn?  The purpose of these posts is to encourage educators to examine practices they take for granted, implement without deep reflection of their efficacy. This post discusses the instructional practice of asking students to memorize information.

How often have students (ourselves included) been asked to memorize mass amounts of facts – historical dates, vocabulary words, science facts, get tested on them, just to forget almost all those memorized facts a week or two later? Given that is this learning experience is more common than not, why do educators insist on continuing this archaic and ineffective instructional practice?

To learn it in isolation is like learning the sentence “Hamlet kills Claudius” without the faintest idea of who either gentleman is–or, for what matter, of what “kill” means. Memorization is a frontage road: It runs…

View original post 559 more words

Watch “Teaching English the Fun Way: The Game” on YouTube

Do you think grammar is such difficult lesson to learn?or may be some of you got stuck with the teaching procedure that unintentionally drive you as a teacher to teach like a train. Learning is supposed to be fun and engaging the student’s motivation

Learning English can actually be done very fun and exciting. It actually needs your creativity as a teacher to know better about your students’ interest. Understanding the student’s interest that will bridge your teaching technique would make the learning even much exciting.

Here is the reference that you could have for teaching English especially pronoun. This video will help your student in learning especially for for the kinesthetic students.

Go to the link below.
https://youtu.be/lpE7Wi-F0ZA

Thanks

Mr.Al-Manar